Not-
Found
Tampilkan postingan dengan label Romantic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romantic. Tampilkan semua postingan

Dua Tahun Koma, Menikah Sebelum Akhir Hayatnya

Pernikahan yang tertunda selama 2 tahun dan berakhir tragis. (c) dailymail.co.ukVemale.com - Tak semua kisah cinta berakhir manis. Kita pun tak pernah tahu bagaimana kebahagiaan direnggut begitu saja tanpa pernah kita duga. Di luar rencana, di luar apa yang sudah kita kira.

He Jingjing dan Lu Lai, tadinya akan menikah di tahun 2011. Keduanya bekerja di kantor pemerintahan lokal. Dengan karir yang sudah mapan, keduanya bahkan sudah membeli rumah. Namun rencana menikah itu mendadak pupus ketika He Jingjing tak sadarkan diri secara mendadak.

Kejadian menggemparkan itu terjadi ketika Jingjing sedang bekerja. Ia bahkan divonis koma, dan sejak itu Jingjing tak pernah bangun lagi. Impian Lu Lai untuk meminang sang kekasih seolah sirna sudah. Setiap hari Lu Lai dan keluarga kekasihnya itu mengharap agar Jingjing kembali membuka matanya.
Semua keluarga 'berpamitan' sebelum melepas alat bantu nafas Jingjing (c) dailymail.co.uk
Namun Jingjing tetap diam. Terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Ia hidup, disokong oleh alat bantu nafas. Tak disangka dua tahun sudah, harapan Lu Lai dan segenap keluarganya untuk melihat Jingjing kembali membuka mata dan tersenyum sepertinya tak akan pernah terkabul.

Tepat di usianya yang ke-28, keluarga Jingjing dan Lu Lai membawakan kue tart untuk merayakan ulang tahun Jingjing. Sekaligus, menggelar acara pernikahan yang tertunda selama dua tahun terakhir.

Jingjing yang tak bergerak sedikitpun, didandani sebagaimana pengantin. Menggunakan makeup dan gaun pengantin putih yang cantik. Sayangnya, ia hanya berbaring di ranjangnya. Keluarga juga membuat origami burung untuk menghias kamar itu.

Namun pernikahan ini sekaligus menjadi perpisahan bagi Lu Lai, sekaligus bagi keluarga Jingjing, Setelah sekian lama berharap, akhirnya mereka menyerah dan memutuskan untuk melepas alat bantu nafas yang selama ini membantu He Jingjing untuk tetap bisa hidup.


Semua keluarga 'berpamitan' sebelum melepas alat bantu nafas Jingjing (c) dailymail.co.ukSemua keluarga 'berpamitan' sebelum melepas alat bantu nafas Jingjing (c) dailymail.co.uk

Satu per satu keluarga dan Lu Lai membisikkan doa dan pesan terakhir mereka pada wanita itu. Mungkin inilah pernikahan paling miris sepanjang tahun ini. Menikahi orang yang dicintai untuk memenuhi janji, namun pada akhirnya Lu Lai ditinggal mati.

Meski begitu, Lu Lai tetap bangga pada kekasihnya. Organ dalam tubuh Jingjing akan didonasikan pada mereka yang membutuhkan. "Aku senang dia menolong orang lain, namun bagiku dia tidak hidup di tubuh orang-orang itu. Dia akan selalu ada di dalam hatiku. Aku akan selalu merindukannya," ujarnya.

Lu Lai menceritakan bahwa ia dan Jingjing memiliki pernikahan impian dan berusaha sebisa mungkin mewujudkannya. Keduanya bekerja sama menyiapkan pernikahan itu dengan usaha mereka sendiri. Oleh karena itu seringkali Jingjing agak memforsir dirinya sendiri. Jingjing dan Lu Lai tahu bahwa wanita itu sedang sakit.

"Dia sakit, tapi dia tak mau berhenti bekerja. Sampai suatu ketika aku menerima telepon bahwa dia tak sadarkan diri di depan komputernya," cerita Lu Lai.Setelah diperiksa, Jingjing mengalami kerusakan otak dan mengalami koma.

Menurut sang ayah, Jingjing adalah anak wanita yang sangat aktif, ceria dan bersemangat. Pernikahan yang diselenggarakan ini semata-mata tanda sayang terakhir untuk sang anak sebelum mereka merelakan Jingjing selama-lamanya.

Meski tak membuka matanya, semoga Jingjing berbahagia dengan pernikahannya. Yang pasti, Lu Lai akan menyimpan cinta dan kenangannya bersama Jingjing di dalam hati, selama-lamanya.

Posted by
Unknown

More

Cinta Tumbuh Sempurna di Antara Ketidaksempurnaan Kami

Vemale.com - Cinta terasa sebagai hal yang mustahil dan hanya mimpi belaka bagi seorang Dong Zhiyuan dan Yan Wanyu sebelum mereka mengenal satu sama lain melalui internet. Dong adalah seorang pria dari daerah terpencil di China. Dan ia lahir dengan tubuh yang kerdil dan dijuluki 'mini boy'.
Sementara Yuan, adalah seorang wanita dengan bentuk wajah dan tubuh tak sempurna sekal ia mengalami kecelakaan saat berusia satu tahun. Ia tak punya jemari lentik di tangan kirinya. Hidungnya pun nampak buruk akibat dampak dari kebakaran saat kecelakaan. Selama 20 tahun, ia bahkan tak bisa menutup matanya karena cacat tubuh yang ia miliki.

(c) http://lifeisreallybeautiful.com
Dong sejak lama, selalu mengurung dirinya di kamar. Toh tubuh dan tulangnya kurang berfungsi dengan baik. Bahkan ia harus menjalani home schooling karena berbeda dari yang lainnya. Saat pria ini beranjak remaja, berusia 18 tahun, ia meminta ibunya untuk membelikannya sebuah komputer bekas. Ia yakin ia bisa menjadi lebih berguna dengan hal itu dan tak sekedar menjadi beban di masyarakat karena tubuhnya yang tak sempurna.
Berkat ketekunan dan kedisiplinan yang ia miliki, Dong menjadi orang yang sangat cerdas di bidang komputer dan internet. Ia menjadi pendiri 4 website dan operation supervisor dari 7 website. Dong juga menjadi karyawan IT di sebuah perusahaan di Anshan Si Mini Boy yang diremehkan orang dan kurang percaya diri, kini menjadi sosok yang terkenal dan disanjung-sanjung di kotanya.
Ketenaran Dong menyebar luas, menarik perhatian Yuan di Guangdong. Karena keluarganya miskin, Yuan tidak bisa kuliah. Apalagi ia mengalami diskriminasi di sekolah karena ia cacat. Ketidak sempurnaan wajah yang membuatnya sulit diterima kerja membuat Yuan putus asa.

(c) lifeisreallybeautiful.comTahun 2009, Yuan mencoba kontak jodoh via internet yang khusus untuk orang-orang cacat. Di sanalah ia bertemu dengan Dong. Ia jatuh cinta dengan Dong, bukan sekedar karena mereka berada dalam nasib yang sama. "Dia adalah pria yang baik," kata Yuan.
Pada bulan April, tahun berikutnya, Dong menyatakan cintanya pada Yuan. "Aku mencintainya dengan tulus dari lubuk hatiku," kata Dong. "Aku akan menghangatkan hatinya sepanjang hidupku.
(c) lifeisreallybeautiful.com
Yuan tersentuh dengan pengakuan Dong dan akhirnya mereka hidup bersama sebagai pasangan sejati. Sejak itulah, Yuan bisa merasakan bahwa Dong memang benar-benar mencintainya. Dong merelakan uang tabungannya untuk membawa Yuan melakukan operasi plastik. Melakukan perawatan pada mata dan wajahnya yang rusak.
Dong dengan penuh cinta menguatkan Yuan agar optimis dengan operasi ini. Melihat bagaimana keduanya saling bahu membahu, pihak rumah sakit Shenyang Xiehe ikut tersentuh. Mereka membebaskan biaya operasi untuk Yuan.

Namun ini hanya langkah pertama dari operasi plastik yang dijalani Yuan. Sebagai seorang pria yang bertanggung jawab, Dong pun mulai mengumpulkan uang kembali. Ia membuka lahan tani sendiri dan menyediakan sayuran untuk pasar dan toko di sekitar tempat tinggalnya. Semua itu ia lakukan demi Yuan.
"Bagiku, Yuan adalah gadis paling cantik dan mempesona di dunia," kata Dong. "Aku akan menikahinya setelah ia selesai operasi. Agar ia bisa merasa cantik di hari pernikahan nanti. Apapun yang terjadi, Wanyu dan aku akan menghadapinya bersama."

Hingga kini, belum ada lagi kabar tentang pasangan manis ini. Namun yang pasti, kini keduanya sudah menikmati manisnya penantian dan pengorbanan yang mereka jalani bersama. Ketidak sempurnaan mengajari mereka akan kesempurnaan hidup, yaitu dengan saling mencintai.

Semoga Bermanfaat


Muhammad Iqbal M


Posted by
Unknown

More

Mengapa Kamu Mencintaiku?

 
Suatu hari, seorang pasangan kekasih sedang berjalan-jalan di taman. Dipetiknya sebuah bunga yang cantik oleh si pria dan diberikan kepada kekasihnya, "ini untukmu sayang." Di luar dugaan, kekasihnya justru terdiam. Tak berapa lama kemudian ia bertanya pada kekasihnya?

Wanita: Kenapa kau menyukaiku? kenapa kau mencintaiku?
Pria: Aku juga tidak tahu alasannya. Tetapi aku sangat menyukaimu, aku mencintaimu, sayang.
Wanita: Kamu jahat. Kamu bahkan tidak bisa menyebutkan satu alasanpun mengapa kau menyukai aku. Kalau suatu saat nanti ada yang lebih cantik dari aku pasti kau akan meninggalkan aku. Bagaimana bisa kau bilang kau mencintaiku jika kau tak tahu alasannya?

Pria: Aku benar-benar tidak tahu alasannya, sayang. Tetapi, bukankah perhatian, kasih sayang dan kehadiranku di hidupmu sudah menjadi bukti cintaku?
Wanita: Bukti apa? Semua tidak membuktikan apapun. Aku hanya butuh alasan, kenapa kamu bisa menyukaiku? Kenapa kamu mencintaiku?

Pria: Baiklah, akan kucoba cari alasannya. Eum... karena kamu cantik, kamu punya suara yang indah, kulitmu halus, rambutmu lembut... Cukupkah alasan itu?
Kekasihnya kemudian mengangguk, dan menerima bunga itu dengan senang hati.
***
Beberapa hari kemudian, sebuah kecelakaan menimpa wanita tersebut. Ia harus kehilangan rambutnya yang panjang dan lembut karena terjepit dan terpaksa harus dipotong. Ia juga harus kehilangan suara dalam beberapa waktu karena pita suaranya terbentur keras. Kulitnya yang dulu halus mulus kini terpapar beberapa jahitan. Ia terbaring tak berdaya.
Di sampingnya ada secarik surat. Iapun membacanya.
"Kekasihku,
Karena suaramu tak lagi semerdu dulu, bagaimana aku bisa mencintaimu?
Dan karena rambutmu kini sudah tak panjang dan lembut lagi, aku tak bisa membelainya. Aku juga tak bisa mencintaimu.
Apalagi kini banyak jahitan di wajahmu yang dulu mulus.

Jika benar cinta itu butuh alasan, kurasa aku benar-benar tak bisa mencintaimu lagi sekarang.
Tetapi....
Cintaku bukan cinta yang palsu.
Cintaku kepadamu tulus. Aku menyukai dirimu yang apa adanya. Aku tidak jatuh cinta karena kau punya suara yang merdu, rambut yang indah serta kulit yang mulus. Aku mencintaimu tanpa alasan apapun.
Sampai kapanpun, aku tetap akan mencintaimu. Sekalipun nanti rambut putihmu mulai tumbuh, kulitmu mulai menua dan keriput, aku selalu mencintaimu.
Menikahlah denganku..."
Cinta tak pernah membutuhkan alasan. Ia juga akan tetap hadir secara misterius. Datang tanpa pernah diduga sebelumnya. Percayalah akan kekuatan cinta, karena kau tak pernah tahu seberapa besar ia akan membuat hidupmu bahagia.

Semoga Bermanfaat


Muhammad Iqbal M

Posted by
Unknown

More

Cinta Dalam Hati



Sejak awal, keluarga Devi menolak kehadiran Mario. Ia berasal dari keluarga yang biasa saja, tidak populer dan bukan keluarga terpandang. Keluarganya khawatir bahwa Mario tak dapat membahagiakan Devi kelak, sehingga akhirnya cinta mereka berdua harus disembunyikan dari semua orang di sekelilingnya.

Karena tekanan keluarga tersebut Devi menjadi ragu akan cinta Mario. "Sebesar apakah cintamu padaku?" tanyanya suatu hari pada Mario. "Aku tak pandai berkata-kata, tetapi suatu saat nanti kau akan tahu sebesar apa cintaku..." kata Mario. Jawaban itupun membuat Devi jadi semakin bimbang. Ia berpikir, mungkin keluarganya benar. Mungkin ia harus merelakan cintanya dengan Mario dan tidak berusaha mempertahankannya lagi.

Kemarahan Devi terhadap jawaban Mario membuatnya tak ingin bertemu lagi dengannya. Ia mengacuhkan Mario dan membuatnya menderita rasa pedih karena patah hati.
Tak lama kemudian, Mario memutuskan untuk mengejar pendidikan ke luar daerah. Meninggalkan kota asalnya dan berusaha menyembuhkan lukanya.
***
Lima tahun berlalu, sekalipun Devi merasa kecewa terhadap Mario, ia tak bisa melupakannya walau sedetik saja. Di dalam hati, cintanya terhadap Mario masih kokoh tertanam di sana.

Teringat pada sebuah cafe kecil tempat mereka biasa bertemu diam-diam, Devipun tertegun. Tanpa disadari sebuah mobil melaju kencang di depannya. Mobil yang dikendarainyapun tak sanggup menghindar. Ia dilarikan ke rumah sakit dan harus mendapat penanganan serius. "Ia sudah melewati masa krisisnya, bu. Tetapi ia akan kehilangan suara, selamanya..." jelas dokter menghancurkan hati kedua orang tua Devi. Sejak saat itupun Devi lebih banyak memilih menyendiri. Usulan orang tua untuk pindah ke desapun diterimanya.
***
Hari itu sahabat Devi datang membawa sebuah amplop. Sambil bercerita girang ia tak mempedulikan Devi yang masih terbengong mendengar kata Mario. "Kamu tahu nggak sih ternyata Mario sudah pulang sebulan lalu. Aku juga kaget waktu menerima undangan ini, makanya aku cepat-cepat menyetir mobilku ke sini. Dia ingin aku menyampaikan amplop undangan pernikahannya." kata sahabatnya. Devi tertegun. Air matanya mengalir deras dan ia kesal karena ia tak dapat berkata apapun. Ia hanya bisa menyimpan semuanya dalam hati. Berlarilah ia ke halaman dan duduklah ia di bawah pohon tempat ia biasa melamun. Dibukanya amplop berwarna biru terang itu perlahan. Ia sudah pasrah dan akan rela menerima kecewa yang pantas diterimanya.

Tak terbayangkan. Saat ia membuka undangan tersebut, namanyalah yang tertera di sana. Dengan undangan tersebut, Mario melamarnya. Memintanya menjadi mempelai baginya minggu depan nanti. Devipun akhirnya tahu bahwa Mario telah mempersiapkan semua tetek bengek pernikahan dalam waktu sebulan ini. Ia juga tahu benar bagaimana kondisinya lewat sahabatnya. "Dan inilah jawaban pertanyaanmu hari itu. Inilah besarnya cintaku padamu..." suara Mario mengagetkan dari belakang. Berlarilah Devi dan memeluk Mario erat. Dengan bahasa isyarat yang telah dipelajarinya, ia mengucapkan "Aku mencintaimu, Mario..."

Semoga Bermanfaat


Muhammad Iqbal M

Posted by
Unknown

More

Saat Aku Gagal Menikah


Dengan hati yang tulus dan tenang, kubagikan kisahku ini. Sebut saja namaku Ridang. Semoga kisah tentang kegagalan pernikahanku ini bisa menjadi cahaya lilin bagi hati yang meredup karena kehilangan cinta seorang kekasih.

Aku adalah seorang karyawati di rumah sakit swasta di kota “S”. Di antara segala kesibukan bekerja di rumah sakit dan rutinitas di asrama, aku masih menyempatkan diri untuk bergabung dalam kelompok paduan suara. Aku menyanyi untuk acara-acara pernikahan di gereja. Aku bersyukur dikaruniai bakat untuk menyanyi ini. Banyak pengalaman positif yang kudapatkan dengan bergabung dalam kelompok paduan suara .
Sebagai seorang wanita berusia 25 tahun, aku mempunyai seorang kekasih. Dia bekerja di bidang pelayaran. Sekian lama kami menjaga hubungan cinta dan bersikap saling percaya meski jarak sering memisahkan. Selama beberapa tahun pula kami berusaha untuk saling mengenal dan menjalin kasih sayang hingga suatu ketika kami memutuskan untuk menikah. Semua persiapan pernikahan mulai dari pernak-pernik kecil kecil hingga rencana pertemuan keluarga sudah kami bicarakan bersama.

Selain bekerja, aku juga mengikuti kursus rias pengantin. Tentu wajar jika aku ingin membuat acara pernikahanku terasa sangat istimewa. Aku ingin menikah dengan mengenakan gaun pengantin nuansa Eropa yang berwarna putih dan panjang. Aku ingin mendesain sendiri gaun pengantinku. Tetapi ternyata calon suamiku meminta kami memakai pakaian adat Jawa tengah. Apa boleh buat, aku mengalah dan tidak ingin berdebat hanya karena masalah gaun pengantin.

Aku mendatangi salah satu penjahit dan butik langgananku. Sebuah busana pengantin jawa telah siap dan tinggal menunggu waktu untuk segera dikenakan. Sambil mempersiapkan banyak hal yang berkaitan dengan rencana pernikahan kami, kami berdua sebagai calon pengantin harus mendaftarkan diri untuk ikut kursus persiapan perkawinan di gereja. Aku mendaftarkan nama kami untuk mengikuti kelas kursus calon pengantin. Dalam kursus itu, kami akan diberi banyak bekal persiapan tentang hidup berkeluarga, bagaimana mengenal pasangan lebih jauh, dan penyelidikan dari gereja tentang kelayakan untuk sah atau tidaknya perkawinan kami.

Pada awalnya, kami berdua begitu bahagia dan tak sabar ingin segera mengikuti kursus persiapan perkawinan itu. Tapi entah mengapa sebabnya, secara perlahan calon suamiku semakin sulit dihubungi. Aku mulai putus asa tapi tetap berusaha berpikir positif. Hingga akhirnya aku mengunjungi adik calon suamiku yang kebetulan satu kota denganku. Dari adiknya aku tahu bahwa kekasihku berpaling pada wanita lain. Rasanya aku tidak perlu menceritakan detailnya. Namun, yang pasti hati dan perasaanku hancur berkeping-keping. Tanpa kabar berita dia hilang begitu saja.

Setelah mendapat beberapa informasi yang cukup dapat kupercaya, aku sudah tidak berharap banyak tentang rencana pernikahanku dengannya. Bahkan aku tidak mampu untuk menangis karena rasanya hatiku telah mati rasa. Rasanya dada ini sesak dan bebanku terasa berat. Aku ingin menangis tetapi tidak setitik pun airmata keluar. Aku mengunjungi seorang biarawati di biara dan berharap dengan bercerita padanya, aku bisa menangis dan merasa lega. Kenyataannya, justru biarawati itu yang menangis terharu padaku.

Cukup lama aku tidak bisa menangis. Pada suatu hari seorang teman paduan suaraku sedang menyanyi lagu ”Hadapilah dengan Senyum” dan tanpa aku sadari, tangisku tiba-tiba meledak. Aku tidak mampu menahannya lagi. Aku dipeluk oleh sahabatku. Sepotong syairnya berbunyi seperti ini ”bila bebanmu terlalu berat, hadapilah dengan senyum. Bila dunia mengecewakan, hadapilah dengan senyum. Tuhanlah bentengmu, janganlah kau bimbang akan semuanya hadapilah dengan senyum" dan seterusnya.

Aku harus berjuang dengan segala cara untuk tetap dapat tersenyum walau hati ingin menjerit dan menangis. Terlebih lagi, tak lama kemudian aku mendengar kekasihku menikah dengan wanita lain. Adiknya datang menemuiku untuk menyampaikan permintaan maaf. Bahkan dia juga tidak ingin menghadiri pernikahan kakaknya. Satu-satunya hal yang mampu membuatku bertahan adalah doa. Ketika aku merasa dunia sudah runtuh, rasa malu pada teman - teman, dan bingung akan pertanyaan dari orang tuaku mengapa aku batal menikah, aku hanya bisa berdoa. Beruntung salah satu kakakku sangat mengerti keadaanku dan dia yang menjelaskan semua pada orang tuaku.

Pada waktu peristiwa itu terjadi, aku sedang aktif dalam kelompok paduan suara di gereja, terutama untuk mengisi suara sebagai solis atau penyanyi tunggal. Profesionalisme sebagai penyanyi harus bisa membuatku tegar. Dengan hati berkeping-keping kususun nada demi nada false dalam irama hidupku. Aku harus bangkit. Aku harus kuat. Aku ingin bangkit menjadi sepotong hati yang tegar walau batal menikah. Semua sahabat paduan suara sangat mengerti tentang peristiwa batalnya rencana pernikahanku. Aku bahkan diijinkan untuk tidak usah menyanyi dulu hingga hatiku tenang lagi. Namun aku menolak. Aku harus tetap menyanyi. Jadwal acara menyanyi tak akan kuubah.

Pada saat pertama kali aku menyanyi lagu The Wedding dalam pernikahan salah satu temanku pada masa sulitku itu, sahabat-sahabatku menangis. Mereka menitikkan airmata haru melihatku begitu syahdu mengalunkan lagu pengiring pengantin masuk ke gereja menuju altar suci untuk diberkati. Sungguh ini sebuah keajaiban Tuhan. Aku begitu tegar menyaksikan pasangan pengantin masuk ke gereja menuju altar dengan gaun pengantin nuansa Eropa yang cantik itu. Hingga bait terakhir lagu berhasil kunyanyikan dengan sempurna dan penuh perasaan. Tanpa terasa aku telah melewati masa sulit ini. Siapakah yang dapat bertahan jika bukan karena kebesaran Tuhan? Tuhan telah mengajakku bercanda rupanya. Ketika aku sedang meratapi kepergian kekasih yang membatalkan pernikahan kami, malah aku diberi semangat untuk terus bernyanyi bagi banyak pasangan pengantin. Ya, ini berarti aku harus mampu miliki hati yang tegar.
Suatu hari, aku mendapat telepon dari mantan kekasihku, dia mengatakan minta maaf karena telah meninggalkan aku. Aku tidak menaruh dendam sedikitpun dan memaafkan keadaannya. Bahkan aku mendoakan kebahagiaannya. Ketika ia menghubungi aku, mantan kekasihku ini mengalami kecelakaan dan tidak bisa berjalan. Pada saat yang sama istrinya meninggalkan dia. Aku hanya bisa berdoa agar dia dapat segera pulih dan sembuh seperti sediakala. Tetapi maafkan aku Tuhan karena aku tak mungkin kembali padanya. Dia sudah sembuh dari kecelakaan tersebut, namun dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena tak menemukan kebahagiaan.
Aku berdoa agar semua dosa dan kesalahannya diampuni Tuhan. Dia tetap sahabat yang terbaik dalam hidupku. Kini aku boleh mengucap syukur dan membagikan kebahagiaan. Tanpa kuduga cinta sejatiku akhirnya datang. Betapa indahnya rencana Tuhan. Semua diatur indah pada waktunya. Waktu yang tepat sesuai rencanaNya. Aku telah menemukan seorang kekasih yang mencintaiku dengan luar biasa dan yang membangun kembali reruntuhan puing-puing harapan tentang istana cintaku. Tuhan terimakasih untuk semua ini. Kubagikan kisahku ini agar menjadi pelita hati, percayalah dunia belum berakhir hanya karena engkau tidak jadi menikah..

Semoga Bermanfaat


Muhammad Iqbal m

Posted by
Unknown

More

Cinta Seorang Suami

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku. Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami.

Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku.

Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.

Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami.

Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas.

Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa tabungan dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.” Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Semoga Bermanfaat
Muhammad Iqbal M

Posted by
Unknown

More

Copyright © 2012 Alvaro AlanoTemplate by : Bugis777Powered by Blogger